Download Kumpulan Soal CPNS Terbaru 2014 PDF

Download Kumpulan Soal CPNS Terbaru 2014 PDF | Test CPNS 2014 di ambang mata tidak lama lagi test CPNS 2014 akan di buka di setiap daerah di Indonesia sebelum melakukan tes CPNS 2014 ada baiknya sahabat semua belajar dan mempersiapkan diri sebelum hari H, semoga sahabat salah satu kandidat yang lulus amiinn, berikut admin bagikan contoh Kumpulan Soal Soal CPNS Terbaru Semoga Bermanfaat.

Contoh Kumpulan Soal Soal CPNS yang kami dalam format rar sangat lengkap dan memiliki kunci jawaban, dari pada anda membeli buku lebih baik anda download disini dan gratis alias free, silahkan  download di link berikut: 

Download Prediksi Soal CAT CPNS 2014 PDF
Download Contoh Soal CPNS 1 PDF
Download Contoh Soal CPNS 2 PDF
Download Contoh Soal CPNS 3 PDF
Download Contoh Soal CPNS 4 PDF
Download Contoh Soal CPNS 5 DOC
Download Contoh Soal CPNS 6 RAR

Pengertian Hasil Belajar

1.      Pengertian Hasil Belajar
Hasil belajar adalah hasil yang telah dicapai atau dilakukan oleh seseorang untuk mendapatkan kepandaian. Seseorang dapat dikatakan berhasil apabila ia dapat mencapai hasil yang maksimal dari apa yang telah dilakukan. Begitu halnya seorang siswa apabila ia memperoleh hasil belajar yang tinggi, maka siswa tersebut berarti telah berhasil mencapai tujuan belajar yang telah ditentukan.
Sehubungan dengan uraian di atas Sumartono (1997:18) menjelaskan bahwa :
Hasil belajar adalah suatu nilai yang menunjukkan suatu nilai yang tertinggi dalam belajar yang dicapai menurut kemampuan dalam mengerjakan sesuatu pada suatu tertentu pula”.
Berdasarkan pendapat tersebut dapat dijelaskan bahwa hasil belajar adalah hasil yang maksimal dicapai oleh seseorang. Hasil maksimal tersebut telah dicapai berdasarkan kemampuan yang dimiliki. Karena tiap siswa memiliki perbedaan individu dalam arti memiliki kemampuan, kemauan, minat dan intelegensia yang tidak sama, maka sudah selayaknya hasil maksimal yang dicapainya juga tidak akan sama, hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yang dapat menunjang antara lain faktor peralatan, faktor kesempatan dan faktor lingkungan. Faktor keadaan siswa-siswa dan lain sebagainya. Usaha yang tekun dari diri sendiri dan dorongan dari luar yakni yang berupa bimbingan baik dari guru atau orang tua juga akan ikut menentukan hasil maksimal yang dicapai oleh siswa. Semakin besar usaha siswa dan bimbingan yang diperoleh dalam belajar pada umumnya semakin tinggi hasil atau hasil yang dicapainya.
Sedangkan pengertian belajar menurut Nawawi (1989:100) dalam bukunya yang diterbitkan oleh Departemen pendidikan dan Kebudayaan, adalah :
“Tingkat keberhasilan murid dalam mempelajari materi di sekolah yang dinyatakan dalam bentuk skor yang diperoleh dari hasil tes mengenai sejumlah materi pelajaran tertentu”.
Tetapi menurut pendapat Poerwodarminto (1980:768), hasil belajar adalah :
“Hasil yang telah dicapai. Sedangkan belajar adalah menambah dan mengumpulkan sejumlah pengetahuan, dengan demikian hasil belajar dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah hasil yang telah dicapai oleh siswa dalam belajarnya”.
Dari ketiga pendapat tersebut pada dasarnya mempunyai arti yang sama hanya batasan yang diberikan berbeda. Hal ini telah dijelaskan menurut Nawawi (1989:102) yang memberikan batasan hasil belajar itu dibatasi dengan 3 (tiga) tingkat kemampuan antara lain :
1)      Penguasaan materi pengetahuan berupa kemampuan menghafal, mengingat, fakta-fakta yang terdapat dalam materi/bahan pelajaran, istilah-istilah, pengertian-pengertian, prinsip-prinsip dan generalisasi-generalisasi yang bersifat teoritis.
2)      Pengertian dan pemahaman yang dicerminkan dalam tiga bentuk tingkah laku, yakni kemampuan menterjemahkan kedalam bahasa sendiri dalam memahami suatu gagasan, kemampuan menafsirkan dan kemampuan menghubungkan suatu topik dengan contoh-contohnya yang konkrit, diiringi dengan kemampuan menetapkan kesimpulan-kesimpulannya.
3)      Penggunaan materi pengetahuan berupa kemampuan mempergunakan  hasil tentang suatu gagasan/pendapat yang bersifat umum, prosedur dan metode, termasuk juga prinsip-prinsip tehnik ke dalam situasi kongkrit.
Tiga tingkatan kemampuan yang lain sebagai hasil belajar yang lebih komplek tidak termasuk belajar antara lain : Analisis, Sintesis dan Evaluasi.
Jadi jelaslah bahwa hasil belajar itu merupakan hasil yang dicapai seseorang siswa dalam belajar yang dinyatakan dalam bentuk skor nilai. Akan tetapi secara luas tidak hanya ditentukan oleh skor saja, bahkan juga pada hal-hal yang nyata seperti bakat dan keahlian.
Dalam hal hasil ini, sesuai dengan kenyataan yang ada, bagaimana keadaan murid di kelas, di rumah dan di masyarakat, apakah sesuai dengan kepribadiannya, inipun merupakan berhasil, hanya saja berhasil yang merupakan perubahan yang ada di rumah atau di masarakat.

2.      Faktor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Secara garis besar faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar dapat dibedakan menjadi 2 (dua) yaitu : faktor endogen/intern dan faktor exogen/ekstern.
a.      Faktor endogen atau intern
Faktor ini adalah berasal dari siswa sendiri artinya faktor yang berupa kemampuan anak yang dibawa sejak lahir. Pada dasarnya setiap anak sudah dibekali dengan berbagai kemampuan, bakat atau potensi. Kemampuan yang bersifat bawaan ini tidak dapat dirubah, tetapi hanya dapat dipengaruhi atau dikembangkan menurut batas yang dimilikinya. Orang tua dan guru hanya dapat mempengaruhi dan mengembangkan potensi yang ada, yakni dengan jalan memberikan rangsangan dan dorongan yang sesuai dengan memberikan pendidikan dan bimbingan secukupnya. Jadi bimbingan dan pendidikan yang dilaksanakan keluarga maupun di sekolah hanya merupakan proses untuk mengembangkan potensi-potensi anak itu sendiri.
Kita mengetahui bahwa pendidikan adalah penting, bahkan lebih penting dari yang lain-lainnya. Hal ini tampak pada orang tua yang selalu berusaha agar anak-anaknya menjadi anak yang pandai, anak yang baik, berguna bagi nusa dan bangsa dan masyarakat pada umumnya. Sampai-sampai orang tua tidak segan-segan menjual kekayaannya bila diperlukan untuk membiayai anak-anaknya dalam belajar mereka. Orang tua sekarang insyaf, bahkan pendidikan sangat menentukan masa depan anak. Dalam masyarakat modern seperti sekarang ini seseorang akan memperoleh kehidupan yang baik harus dengan berkompetisi dengan orang lain. Jika tidak pandai bersaing, maka akan terdesaklah orang yang lebih pandai.
Sebagian orang telah mengatakan bahwa harta warisan yang paling baik bagi anak-anaknya adalah pendidikan dan pengajaran kepada mereka. Namun pada kenyataannya masih ada orang tua yang belum sadar sepenuhnya akan hal ini dan masih banyak anak yang gagal dalam belajarnya. Banyak diantara mereka yang tidak naik kelas, tidak lulus ujian, dikeluarkan dari sekolah dan sebagainya. Karena mereka mendapatkan hambatan-hambatan dalam belajar mereka.
Pada umumnya orang tua sendiri kurang menyadari atau mengerti apa sebab-sebabnya anak mereka gagal dalam belajar. Sebab-sebab itu banyak, ada beberapa sebab endogen yang dapat penulis uraikan yang antara lain sebagai berikut :
1)      Faktor biologis
Faktor biologis ialah faktor yang berhubungan dengan jasmani anak, misalnya :
a)      Kesehatan
Kesehatan adalah faktor didalam belajar. Pelajar yang tidak sehat badannya, tentu tidak dapat belajar dengan baik. Konsentrasinya akan terganggu, dan pelajar sukar masuk. Begitu juga anak yang badannya lemah sering pusing dan sebagainya tidak akan tahan lama dalam belajar dan lekas capai. Dalam keadaan ini apabila kita memaksa anak untuk belajar giat, kita akan bersalah sebab bagaimanapun juga anak tetap tidak dapat belajar dengan baik. Kewajiban orang tua adalah meneliti, apakah ada penyakit atau gangguan-gangguan yang lain. Jika ternyata ada, hendaklah segera memeriksa ke dokter agar supaya tidak terlambat, baik kesehatannya maupun kemajuan belajarnya. Makin lama kita menunggu untuk memeriksakan kesehatannya, makin terbelakang pula bagi anak dalam usaha belajarnya.
b)      Cacat badan
Cacat badan dapat juga menghambat belajar. Termasuk cacat badan, misalnya : setengah buta, setengah tuli, gangguan bicara, tangan hanya satu dan cacat badan lainnya. Anak-anak cacat seperti ini hendaknya dimasukkan dalam pendidikan khusus atau pendidikan luar biasa.
Anak-anak setengah buta meskipun ditolong dengan alat-alat khusus (misalnya kaca mata istimewa), namun sering kali juga mengalami kesukaran-kesukaran. Sehingga bagaimanapun juga mereka akan terlambat. Begitu juga anak-anak setengah tuli, atau gangguan dalam bicara meskipun sudah ditolong dengan alat-alat khusus, toh tetap akan berbeda hasilnya dibanding dengan anak-anak normal.
2)      Faktor Psychologis
Faktor psychologis adalah faktor yang berhubungan dengan rohaniah, termasuk dalam faktor ini adalah : intelegensia, perhatian, minat, bakat dan emosi.
a)      Intelegensia
Faktor intelegensia adalah faktor indogen sangat besar pengaruhnya terhadap kemajuan belajar anak. Bilamana pembawaan intelegensia anak memang rendah, maka anak tersebut sukar mencapai hasil belajar yang baik. Anak sukar untuk mengerti apa yang dipelajari, sehingga perlu bantuan dari pendidik atau orang tua untuk dapat berhasil belajarnya. Kendatipun anak sudah belajar dengan sebaik-baiknya, kalau memang intelegensianya rendah, maka ia akan mengalami kesukaran juga dalam belajarnya. Andaikata anak tersebut kita marahi terus menerus tidak ada artinya, sebab memang kurang kemampuannya.
Selain faktor intelegensi atau kecerdasan, ada pula faktor lain yaitu cacat mental, cacat yang dibawa sejak lahir. Termasuk cacat ini adalah : idiosi, embilisitas dan debilitas.
Anak-anak yang tergolong embisil adalah anak-anak yang kecenderungannya sama dengan anak-anak normal yang berumur 3 – 7 tahun.
Anak-anak tersebut diatas biasanya mengalami hambatan yang besar dalam usaha belajar mereka. Mereka tidak dapat diharapkan untuk menerima pelajaran dengan sempurna. Anak-anak debil dan embisil ringan dan anak-anak yang lambat belajar masih dapat mengikuti belajar seperti anak-anak yang lain, sehingga pasti mendapatkan kesukaran dalam belajar mereka.
b)      Perhatian
Perhatian merupakan faktor penting dalam usaha belajar anak. Untuk dapat menjamin belajar yang baik, anak harus ada perhatian terhadap bahan yang dipelajarinya. Apabila bahan pelajaran itu tidak menarik maka timbullah rasa bosan, malas, dan belajarnya harus dikejar-kejar, sehingga hasil mereka kemudian menurun. untuk itu maka pendidik harus mengusahakan agar bahan pelajaran yang diberikan dapat menarik perhatiannya. Berikan humor seperlunya agar bahan pelajaran itu benar-benar dapat menarik bagi anak-anak. Biasanya perhatian timbul bila bahan itu berguna/berarti bagi anak. Latihan ujian untuk anak-anak kelas IV adalah bahan yang berarti bagi anak kelas V Sekolah dasar. Perhatian ini sering timbul bahan pelajaran kebetulan sesuai dengan bakat anak.
c)      Minat
Bahan pelajaran yang menarik minat/keinginan anak akan dapat dipelajari oleh anak dengan sebaik-baiknya. Yang tidak sesuai dengan minat/keinginan anak pasti tidak dapat dipelajari dengan sebaik-baiknya, karena tidak ada daya tarik baginya. Ia segan untuk belajar. Minat sering timbul bila ada perhatian. Maka itu untuk menimbulkan minat, kita sebaiknya juga harus menimbulkan perhatian, misalnya dengan menghubungkan dengan hal-hal yang menarik bagi anak.
d)     Bakat
Sering kita mendengar bahwa pelajaran itu tidak sesuai dengan bakatnya, fakultas itu tidak sesuai dengan bakatnya dan lain-lain. Misalnya kita menginginkan agar anak kita menjadi dokter, kemudian kita memasukkan ke fakultas kedokteran. Tetapi ia sama sekali tidak ada bakat untuk menjadi seorang dokter, maka ia mengalami kesukaran-kesukaran dalam belajarnya.
Sebaliknya bagi anak yang mempunyai bakat dokter, ia selalu baik dalam hasil belajarnya, sehingga ia merasa senang dan selalu berusaha lebih giat lagi yang lebih baik. Bagi anak yang selalu gagal, maka kesenangan belajarnya akan semakin berkurang dan mengalami kesukaran-kesukaran.
b.      Faktor Exogen / Ekstern
Faktor ekstern adalah faktor yang berasal dari luar diri anak, artinya segala pengaruh dari luar diri anak baik sebagai hasil pendidikan maupun dari hasil pergaulan. Usaha pendidikan adalah menciptakan situasi yang membuat anak mau dan mampu untuk belajar. Adapun yang termasuk faktor ekstern atau exogen antara lain :


1)      Faktor Keluarga
Didalam keluarga anak dapat pendidikan yang pertama dan utama. Orang tua sebagai pendidik yang pertama dan mempunyai pengaruh besar terhadap anak-anaknya bila dibandingkan dengan pendidikan yang lain. Hal ini disebabkan hubungan antara kedua orang tua bersifat kodrati. Disamping itu pula pendidikan dan bimbingan orang tua tidaklah terbatas pada tempat dan waktu. Anak-anaknya mendapatkan pendidikan dan bimbingan dimana dan kapan saja. Dalam hubungan dengan uraian diatas Suwarno (1977: 65) mengatakan bahwa :
“Alam keluarga adalah pendidikan yang pertama dan yang terpenting oleh sejak timbulnya adat kemanusiaan hingga kini, hidup keluarga itu selalu mempengaruhi pertumbuhannya budi pekerti tiap-tiap manusia”.
Sebenarnya semua keluarga khususnya orang tua menginginkan anak-anaknya mempunyai potensi yang tinggi, namun kenyataannya tidak semua orang tua selalu memberikan pendidikan dan bimbingan belajar.
Adapaun faktor keluarga tersebut dapat diuraikan menjadi beberapa macam, antara lain :
a)      Orang tua
Faktor orang tua merupakan faktor yang besar pengaruhnya terhadap kemajuan belajar anak. Orang tua yang dapat mendidik anak-anaknya dengan cara memberikan pendidikan yang baik tentu akan sukses dalam belajarnya. Sebaliknya orang tua yang tidak mengindahkan pendidikan anak-anaknya, acuh tak acuh, bahkan tidak memperhatikan sama sekali, tentu tidak akan berhasil dalam belajarnya.
Misalnya anak tidak disuruh belajar secara teratur, tidak dibelikan alat-alat belajar, dan sebaginya. Mungkin sebetulnya anak itu pandai, akhirnya menemui kesulitan belajar dan kemudian segan untuk belajar.
Begitu pula orang tua yang memanjakan anak-anaknya juga termasuk cara pendidikan yang tidak baik. anak manja biasanya sukar dipaksa untuk belajar. Ia dibiarkan begitu saja, karena orang tuanya terlalu sayang kepada anak, tapi apabila terlalu sayang akan menimbulkan hal-hal yang kurang baik dan menyesatkan. Bila ia disuruh belajar ia marah-marah, akhirnya ia segan untuk menyuruhnya. Jika ini berjalan terus menerus, akhirnya anak menjadi nakal, bertindak semaunya sendiri tidak memperdulikan perintah orang tuanya. Sebab barang tentu hal ini akan menimbulkan kesukaran-kesukaran belajar.
Sebaliknya dapat pula terjadi yaitu orang tua yang selalu memaksa dan mengejar-ngejar untuk belajar, dari waktu ke waktu terus diperintah untuk belajar, agar dapat mencapai hasil yang tinggi, dapat menjadi juara kelas dan sebagainya. Sehingga anak tidak mempunyai kesempatan untuk beristirahat, sikap orang tua semacam ini adalah salah. Sebab anak tidak dapat beristirahat secara sempurna, disamping itu lama-lama menjadi benci terhadap belajar, bahkan dapat juga dihinggapi rasa ketakutan. Hal inilah yang kemudian menimbulkan gangguan-gangguan kejiwaan dan menimbulkan kesukaran-kesukaran dalam belajar anak. Pada umumnya orang tua mereka kurang memberikan dorongan yang cukup kepada anak-anaknya, mereka kurang mendorong anak untuk menyukai belajar, bahkan karena sikap orang tua yang salah, anak jadi benci terhadap belajar.
Faktor lain yang masih ada hubungannya dengan faktor orang tua adalah hubungan orang tua dengan anak. Apakah hubungan itu bersikap acuh tak acuh atau diliputi suasana kebencian, atau sebaliknya diliputi oleh hubungan yang terlalu penuh kasih sayang dan sebagainya.
Hubungan acuh tak acuh tanpa kasih sayang akan menimbulkan frustasi atau penyesalan yang mendalam dalam hati anak. Ia selalu kecewa dan menderita tekanan-tekanan batin sehingga usaha belajarnya terlambat, begitu juga orang tua yang sangat keras terhadap anaknya menimbulkan tekanan batin pada anaknya. Hubungan orang tua dengan anak menjadi tegang, kaku dan tidak harmonis, satu sama yang lain tidak ada perasaan kasih sayang, karena itu usaha belajar mereka juga terhambat. Sebab belajar harus membutuhkan suasana jiwa yang tenang dan gembira. Orang tua juga terlalu keras terhadap anak-anaknya jelas tidak memberikan ketenangan dan kegembiraan. Orang tua terhadap anaknya sering menuntut hal-hal yang bersifat “harus begini”, “harus begitu” dan sebagainya, ini semua justru membuat anak menjadi malas dan terhambat dalam belajar.
Sebaliknya juga terjadi dimana orang tua terlalu memanjakan anaknya, tidak juga menjadi pendorong yang baik, anak menjadi malas dan minder.
Adapun hubungan orang tua dengan anak yang baik ialah hubungan yang penuh dengan pengertian yang disertai dengan bimbingan dan bila perlu hukuman-hukuman, dengan tujuan untuk memajukan belajar anak. Begitu juga contoh sikap yang baik dari orang tua sangat mempengaruhi belajar anak.
b)      Faktor suasana rumah
Lingkungan keluarga yang lain ynag dapat mempengaruhi usaha belajar anak adalah faktor suasana rumah. Suasana rumah yang terlalu gaduh atau terlalu ramai tidak akan memberikan anak belajar dengan baik. Misalnya rumah dengan keluarga besar atau banyak sekali penghuninya.
Begitu juga suasana rumah tangga yang selalu tegang, selalu banyak cekcok diantaranya anggota-anggotanya. Anak merasa sedih, bingung dan dirundung kekecewaan serta tekanan batin yang terus menerus. Akibatnya anak suka keluar rumah mencari suasana baru. Apa kemudian yang terjadi ?. Dalam sekejab saja anak mendapat pengaruh jahat dari luar yang masuk dalam jiwanya, akhirya ia malas dan terhambat dalam belajarnya.
c)      Faktor ekonomi keluarga
Faktor ekonomi keluarga banyak menentukan juga dalam belajar anak. Misalnya anak dari keluarga mampu dapat membeli alat-alat sekolah dengan lengkap, sebaliknya anak dari keluarga miskin tidak dapat membeli alat-alat itu. Dengan alat yang serba tidak lengkap inilah maka hati anak-anak menjadi kecewa, minder, putus asa sehingga dorongan belajarnya kurang.
d)     Lingkungan Sekolah
Lingkungan sekolah kadang juga menjadikan faktor hambatan bagi anak, menurut Ahmadi (1990 : 84) yang termasuk faktor ini misalnya : Cara penyajian pelajaran yang kurang baik. Dalam hal ini misalnya karena guru kurang persiapan atau kurang menguasai buku-buku pelajaran, sehingga dalam menerangkan kepada anak kurang baik dan sukar dimengerti. Begitu juga metode dan sikap guru yang kurang baik dapat membosankan kepada anak, Hubungan guru dan murid yang kurang baik. Biasanya bila anak itu menyukai gurunya, akan suka pula pada pelajarannya. Sebaliknya bila anak membenci kepada gurunya atau ada hubungan yang kurang baik maka dia akan sukar pula menerima pelajaran yang diberikannya. Anak tidak dapat maju sebab segan mempelajari pelajaran yang diberikan oleh guru tersebut, Hubungan antara anak dengan anak kurang menyenangkan. Hal ini terjadi pada anak yang diasingkan/dibenci teman-temannya. Anak yang dibenci ini akan mengalami tekanan batin yang menghambat kemajuan belajar. Ia sering tidak masuk sekolah dan kadang-kadang mengalami perlakuan yang kurang menyenangkan, Bahan pelajaran yang terlalu tinggi diatas ukuran normal ukuran kemampuan anak, Alat-alat belajar disekolah yang serba kurang / tidak lengkap, Jam-jam pelajaran yang kurang baik. Misalnya sekolah yang masuk siang, dimana udara sangat panas mempunyai pengaruh yang melelahkan.
e)      Lingkungan Masyarakat

Yang termasuk lingkungan masyarakat yang dapat menghambat kemajuan belajar anak ialah : 1) Mas media, seperti : bioskop, radio, televisi, surat kabar, majalah dan sebagainya. Semua ini dapat memberi pengaruh yang kurang baik terhadap anak, sebab anak akan berlebihan menonton atau membaca, bahkan tidak dapat mengendalikannya. Sehingga semangat belajar mereka menjadi terpengaruh dan mundur sekali, dalam hal ini perlu pengawasan dan pengaturan waktu ayng bijaksana, 2) Teman bergaul yang memberikan pengaruh yang tidak baik. Orang tua sering terkejut tiba-tiba melihat anaknya yang belum cukup umur sembunyi-sembunyi merokok atau pergi tanpa tujuan, sehingga tugas-tugas sekolahnya ditinggalkan, 3) Adanya kegiatan-kegaiatan dalam masyarakat, misalnya adanya tugas-tugas organisasi, belajar pencak silat, belajar menari dan sebagainya. Jika tugas-tugas ini dilebih-lebihnkan jelas akan menghambat belajar anak, 4) Corak kehidupan tetangga. Dalam hal ini dimaksudkan apakah anak itu hidup dalam lingkungan tetangga yang suka judi, atau lingkungan pedagang/buruh dan sebagainya. Sebab ini semua dapat mempengaruhi semangat belajar anak.

Media Gambar Sebagai Alat Pemebelajaran

Media gambar merupakan salah satu alat pendidikan. alat ini berupa gambar pamplet dan lain sebagainya. alat pendidikan maksudnya adalah segala yang digunakan untuk mencapai tujuan dalam pendidikan, inilah batasan yang alat pendidikan yang dikemukakan oleh banyak ahli pendidikan. Sutari Imam Barnadib mengemukakan bahwa alat pendidikan adalah “Suatu tindakan atau perbuatan atau situasi atau benda yang sengaja diadakan untuk mencapai suatu tujuan pendidikan” (Noer Ali, 1999 : 139 ).
Menurut ( Kemp, 1975 dalam Hrsya W. Bachtiar, 1984 : 29 ) kelebihan media gambar / foto adalah sebagai berikut :
a.       Sifat konkrit. Gambar / foto lebih realistis menunjukkan pokok masalah dibandingkan dengan media verbal semata.
b.      Gambar dapat mengatasi batasan ruang dan waktu, tidak semua benda, objek atau peristiwa dapat dibawa ke kelas, dan tidak selalu bisa : anak-anak dibawa ke objek / pariwisata tersebut. Untuk itu gambar atau foto dapat mengatasinya. air terjun Niagara atau danau toba dapat disajikan ke kelas lewat gambar atau foto. Peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa lampau, kemarin, atau bahkan semenit yang lalu kadang-kadang tidak dapat kita lihat seperti apa adanya. Gambar dan foto amat bermanfaat dalam hal ini.
c.       Media gambar / foto dapat mengatasi keterbatasan kita. Sel atau penampung daun yang tak mungkin kita lihat dengan mata telanjang dapat disajikan dengan jelas dalam bantuk gambar atau foto.
d.      Dapat memperjelas suatu masalah, dalam bidang apa saja dan untuk tingkat usia berapa saja, sehingga dapat mencegah atau membetulkan kesalahpahaman.
e.       Murah harganya dan gampang didapat serta digunakan, tanpa memerlukan peralatan khusus.
Selain kelebihan tersebut, gambar / foto mempunyai kelemahan, yaitu : Gambar / foto hanya menekankan persepsi indra mata, Gambar / foto benda yang terlalu kompleks kurang efektif untuk kegiatan pembelajaran dan Ukurannya sangat terbatas untuk kelompok besar.

Selain itu ada enam syarat yang perlu dipenuhi dalam media gambar yang baik sebagai media pembelajaran : (a) Harus autentik. Gambar tersebut haruslah secara jujur melukiskan situasi seperti kalau orang melihat benda sebenarnya. (b) Sederhana komposisinya. Hendaknya cukup jelas menunjukkan point-point pokok dalam gambar, (c) Ukuran relatif. Gambar membesarkan atau memperkecil objek / benda sebenarnya. apabila gambar / foto tersebut tentang benda / objek yang belum dikenal atau pernah dilihat anak maka sulitlah membayangkan berapa besar benda atau objek tersebut. Untuk menghindari itu hendaknya dalam gambar / foto tersebut terdapat sesuatu yang telah dikenal anak-anak sehingga dapat membantu membayangkan gambar, (d) Gambar atau foto sebaiknya mengandung gerak atau perbuatan. Gambar yang baik tidaklah menunjukkan objek dalam keadaan diam tetapi memperlihatkan aktifitas tertentu, (e) Gambar yang bagus belum tentu baik untuk mencapai tujuan pengajaran. Walaupun dari segi mutu kurang, gambar / foto karya siswa sendiri sering lebih baik dan (f) Tidak setiap gambar yang bagus merupakan benda yang bagus. Sebagai media yang baik, gambar   hendaklah bagus dari sudut seni dan sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.

Media Pembelajaran

1.      Pengertian Media
Media adalah salah satu faktor yang sangat signifikan dalam menunjang keberhasilan proses pembelajaran. Karena itu media merupakan bagian integral dari keseluruhan proses pengembangan pelajaran. Jika di lihat dari sudut pandang yang lebih dalam  pengertian yang luas media pendidikan dapat dipahami sebagai semua sumber (daya, data dan dana) dan sarana yang dapat menunjang dan melengkapi proses pendidikan sehingga pencapaian tujuan dapat direalisasikan secara efisien dan efektif .
Jika dilihat dari segi etimologi, kata “media” berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dan kata “medium” yang secara harfiah berarti peranan atau pengantar, maksudnya sebagai perantara atau alat untuk menyampaikan sesuatu. Sedang dalam kepustakaan asing ada sementara ahli yang menggunakan istilah : Audio Visual Aids (AVA) untuk pengertian yang sama, para ahli yang menggunakan istilah “teaching material instructional material” yang artinya identik dengan pengertian keperagaan yang berasal dari kata “raga” artinya suatu benda yang dapat diraba, dilihat, didengar dan yang dapat diamati melalui panca indera manusia.
Sebelum ditarik keseimpulan  final tentang pengertian “media”, terlebih dahulu akan dikemukakan beberapa pengertian yang telah dirumuskan oleh para ahli pendidikan antara lain :
a.     Menurut I Wayan Ardhana, dalam bukunya “Media Instruksional”, Media pendidikan ialah : segala sesuatu yang dapat dipakai untuk memberikan rangsangan sehingga terjadi interaksi belajar-mengajar dalam upaya untuk mencapai tujuan instruksional tertentu.
b.         Menurut Soeprapto, dkk. Media pendidikan atau pengajaran ialah : semua alat pembantu yang secara efektif dapat digunakan oleh guru untuk mendapat tujuan yang diinginkan.
c.      Menurut Widiastuti, dkk. Media pendidikan atau pengajaran ialah : semua alat yang dapat dipergunakan melalui indera pendengaran, pengamatan (telinga, mata) dalam proses kegiatan belajar, karena itu alat-alat bantu tersebut sering dinamakan alat pembantu dengar pandang atau audio visual aids (AVA).
d.         Menurut Hamalik, Media pendidikan ialah : alat, metode fan teknik yang dipergunakan dengan upaya untuk lebih mengeefektifkan komunikasi dan interaksi antara guru dan siswa dalam proses pendidikan dan pengajaran di sekolah.
2.      Fungsi Media Pembelajaran
Media pembelajaran mempunyai fungsi yang cukup berarti dalam proses belajar mengajar. Fungsi media instruksional adalah : membangkitkan motivasi belajar, mengulang apa yang telah dipelajari, menyediakan stimulus belajar, mengaktifkan respon opeserta didik, memberikan balikan dengan segera dan menggalakkan latihan yang serasi.
Sebagai komponen sistem pembelajaran media memiliki fungsi yang berbeda dengan fungsi komponen-komponen lainnya, yiatu sebagai komponen yang berisi pesan pembelajaran untuk disampaikan kepada siswa. Pada proses penyampaian pesan ini seringkali terjadi gangguan yang mengakibatkan pesan pembelajaran tidak diterima oleh siswa seperti apa yang dimaksudkan oleh penyampaian pesan (pengajar). Gangguan-gangguan komunikasi antara siswa disebabkan oleh beberapa hal berikut ini : (1) Verbalisme, (2) Salah tafsir, (3) Perhatian ganda, (4) Pembentukan persepsi tak bermakna dan (5) Kondisi lingkungan yang tak menunjang.
Verbalisme terjadi apabila seseorang hanya tahu kata yang mewakili suatu obyek, tetapi tidak mengetahui obyeknya atau seseorang tahu nama konsep, tetapi tidak tahu substansi konsepnya. Verbalisme bisa terjadi kalau dalam proses interaksi belajar-mengajar hanya melibatkan media verbal sehingga siswa cenderung hanya meniru apa yang dikatakan pengajar tanpa memahami maknanya. Keadaan seperti ini berpotensi untuk menganggu interaksi belajar-mengajar karena apa yang dimaksudkan oleh pengajar bisa ditafsirkan lain oleh siswa.
Salah tafsir dapat mengganggu proses penyampaian pesan-pesan pembelajaran ini bisa terjadi kalau istilah-istilah yang dimunculkan oleh pengajar bisa ditafsirkan lain oleh siswa.
Perhatian yang tak terpusat atau ganda sering dapat diacukan sebagai sebab terganggunya proses komunikasi. Gangguan perhatian muncul karena prosedur penyampaian pesan yang membosankan, atau karena perhatian siswa yang lebih tertarik pada hal-hal lain diluar pesan yang sedang disampaikan.
Gangguan proses komunikasi juga dapat terjadi karena terbentuknya persepsi yang keliru tentang suatu obyek, peristiwa, atau gejala. Gangguan ini biasanya disebabkan oleh kurangnya variasi media yang dilibatkan dalam proses komunikasi itu.
Disamping empat butir penyebab gangguan proses komunikasi masih ada butir lain yang berpotensi secara langsung dalam menentukan tingkat gangguan yang bisa dihasilkannya, yaitu kondisi lingkungan, dimana komunikasi itu berlangsung. Tata ruang, tata suara, tata fasilitas amat menentukan kualitas penyampaian pesan, dan semua butir ini sangat terkait dengan media apa yang dilibatkan dalam penyampaian pesan.
Kunci pemecahan masalah-masalah yang berkaitan dengan gangguan proses penyampaian pesan pembelajaran ini terletak pada media yang dipakai dalam proses itu. Pemilihan media yang tepat, sesuai dengan keistimewaan yang dimilikinya, akan dapat memperkecil gangguan-gangguan ini. Secara umum, media tertentu memiliki keistimewaan seperti beriku ini :
(1)     Kemampuan fiksatif, artinya bahwa media memiliki kemampuan untuk menangkap, menyimpan dan kemudian menampilkan kembali suatu obyek atau kejadian, dengan kemampuan ini berarti suatu obyek dapat digambar, dipotret, difilmkan atau direkam kemudian dapat di simpan lama dan pada saat diperlukan dapat ditujukkan lagi dan diamati kembali seperti kejadian aslinya.
(2)  Kemampuan manipulatif, artinya bahwa dengan kemampuan ini media dapat menampilkan kembali obyek atau kejadian dengan berbagai macam cara disesuaikan dengan keperluan. Maksudnya suatu obyek atau kejadian dapat diubah-ubah ukurannya, kecepatannya serta dapat diulang-ulang penampilannya.
(3)     Kemampuan distributif, artinya bahwa dengan kemampuan ini, dalam sekali penampilan suatu obyek kejadian dapat menjangkau pengamat yang sangat banyak. Misalnya dengan menggunakan media TV atau radio.
Dilihat dari keistimewaan-keistimewaan yang dimilikinya, media mempunyai fungsi yang jelas untuk menghindari atau memperkecil gangguan komunikasi penyampaian pesan pembelanjaran. Secara garis besar fungsi media adalah : Menghindari terjadinya verbalisme, Membangkitkan minat/motivasi, Menarik perhatian siswa, Mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan ukuran, Mengaktifkan siswa dalam kegiatan belajar dan Mengefektifkan pemberian rangsangan untuk belajar.
Secara lebih rinci fungsi media dalam proses belajar mengajar sebagai berikut :
1).  Media memungkinkan siswa menyaksikan benda/peristiwa yang ada/terjadi pada masa lampau. Dengan peranan gambar, potret, side, film dan sebagainya. Siswa dapat memperoleh gambaran yang nyata tentang peristiwa / benda bersejarah.
2).      Media memungkinkan siswa mengamati benda/peristiwa yang sukar dikunjungi baik karena tempatnya jauh atau karena berbahaya atau terlarang. Misalnya film tentang kehidupan harimau dihutan, keadaan dan kesibukan dipusat reaktor nuklir dan sebagainya.
3).      Media memungkinkan siswa untuk memperoleh gambaran yang jelas tentang benda/hal-hal yang sukar diamati secara langsung karena ukurannya, baik itu terlalu besar ataupun terlalu kecil. Misalnya dengan perantaraan maket siswa dapat memperoleh gambaran yang jelas tentang bendungan slide atau film dapat memperoleh gambaran tentang bakteri, amuba dan lain sebagaianya.
4).      Media memungkinkan siswa mendengar suara yang sukar ditangkap telinga secara langsung, misalnya rekaman denyut jantung dan sebagainya.
5).      Media memungkinkan siswa mengamati dengan teliti binantang-binantang yang sukar diamati secara langsung  karena sukar ditangkap. Dengan bantuan gambar, potret, slide, film atau rekaman, siswa dapat mengamati berbagai macam serangga, burung hantu, kelelawar dan sebagainya.
6).      Media memungkinkan siswa mengamati peristiwa-peristiwa yang jarang terjadi yang berbahaya didekati. Dengan slide, video cassette siswa dapat mengamati pelangi, gunung meletus, peran dan lain sebagainya.
7).      Media memungkinkan sisa dapat mengamati dengan jelas benda-benda yang mudah rusak / sukar dikaitkan dengan menggunakan model / tiruan. Siswa dapat memperoleh gambaran yang jelas tentang organ-organ tubuh, jantung, paru-paru dan sebagainya.
8).      Media memungkinkan siswa dapat membandingkan sesuatu dengan bantuan gambar, foto, atau model. Siswa dapat dengan mudah membandingkan dua benda yang berbeda sifat, ukuran ataupun bentuknya.
9).      Media dapat memperlihatkan secara cepat suatu proses yang berlangsung secara lambat ataupun cepat . Dengan media film proses perkembangan katak dari telur menjadi katak hanya ditunjukkan beberapa menit saja, demikian pula bunga dari kuncup sampai mekar dapat ditunjukkan dengan film beberapa detik saja.
10).  Media dapat memperlihatkan secara lambat gerakan-gerakan yang berlangsung cepat. Media film dapat memperlihatkan gerakan lompat tinggi, salto dan sebagainya secara lambat, bahkan dapat juga dihentikan, jika diperlukan untuk diamati secara teliti.
11).  Media memudahkan siswa mengamati gerakan-gerakan mesin/alat yang sukar diamati secara langsung. Dengan film dapat dengan mudah diamati jalannya mesin motor empat tak dan sebagainya.
12).  Media memungkinkan untuk menunjukkan bagian-bagian yang tersembunyi dari suatu benda dengan diagram, gambar, bagan dapat ditunjukkan bagian-bagian mesin yang sukar diamati secara langsung.
13).  Media dapat menyajikan ringkasan dari suatu rangkaian pengamatan yang panjang/lama. Misalnya setelah siswa mengamati proses penggilingan tebu pada sebuah pabrik gula, kemudian diberi kesempatan untuk melihat film yang menyajikan secara ringkas proses penggilingan tebu, dengan demikian maka gambaran yang diperoleh siswa tentang proses penggilingan tebu akan lebih mantap dan jelas.
14).  Media memungkinkan dengan menjangkau sasaran yang lebih besar jumlahnya. Dengan TV radio pendidikan, ratusan siswa-siswa dapat mengikuti pelajaran yang disajikan oleh seseorang guru dalam waktu yang sama.
15).  Media memungkinkan siswa dapat belajar sesuai dengan kemampuan, minat, dan tempatnya masing-masing dengan modul atau pembelajaran terprogram, siswa dapat belajar sesuai dengan kecepatan dan kemampuan masing-masing.

3.      Manfaat Media Pembelajaran
Media pembelajaran yang disebut audio visual aids of educational research memiliki nilai sebagai berikut :
a).      Meletakkan dasar-dasar yang konkrit untuk berfikir. Oleh karena itu mengurangi verbalisme (tahu istilah tetapi tidak tahu arti, tahu nama tetapi tidak tahu bendanya).
b).     Memperbesar perhatian siswa
c).      Membuat pelajaran labih mantap atau tidak mudah dilupakan
d).     Memberikan penagalaman yang nyata yang dapat menumbuhkan kegiatan berusaha sendiri dikalangan para siswa.
e).      Menumbuhkan pemikiran yang teratur dan konkrit
f).      Membantu menumbuhkan pengertian dan membantu perkembangan kemampuan berbahasa
Sedangkan manfaat media pengajaran adalah pengajaran lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar, bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya, metode mengajar akan bervariasi dan siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar. dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa manfaat media pembelajaran adalah : Sangat menarik minat siswa dalam belajar, Mendorong anak untuk bertanya dan berdiskusi karena ingin mengetahui lebih banyak, Menghemat waktu belajar. Guru tidak usah menerangkan sesuatu dengan banyak perkataan, tatapi dengan memperhatikan suatu gambar, benda yang sebenarnya, atau alat lain.
4.      Jenis-jenis Media Pembelajaran
Jenis media ada 7 macam pengelompokkan media yaitu : benda untuk di demonsrasikan, komunikasi lisan, media cetak, gambar diam, gambar gerak, film bersuara dan mesin belajar. Ketujuh kelompok media belajar ini kemudian dikaitkan  dengan kemampuannya memenuhi fungsi menurut tingkatan hirarki belajar yang dikembangkannya yaitu pelontar simulus, penarik minat belajar, memberi kondisi eksternal, menurut cara berfikir, memasukkan ahli ilmu, menilai hasil dan pemberian umpan balik. Adapun yang ada dalam penelitian adalah media pembelajaran.
Media pembelajaran merupakan salah satu alat pendidikan, alat pendidikan bisa berupa ucapan, tulisan, keadaan dan lain-lain. Alat pendidikan adalah suatu tindakan atau perbuatan, situasi atau benda yang sengaja diadakan untuk mencapai suatu tujuan pendidikan .

5.      Kriteria Pemilihan Media Pembelajaran
Agar kegiatan belajar dapat berlangsung secara efektif dalam mewujudkan tujuan yang ingin dicapai diperlukan adanya dukungan media pengajaran, memilih media yang terbaik bukan pekerjaan yang mudah, untuk itu hendaknya memperhatikan beberapa faktor yang saling berhubungan. Faktor yang perlu diperhatikan dalam memilih media yang tepat adalah : jenis kemampuan yang akan dicapai, kegunaan media itu sendiri, kemampuan guru menggunakan suatu media, keluwesan atau fleksibilitas, kesesuaian dengan alokasi waktu, sarana pendukung dan biaya.
Setiap media memiliki karakteristik sendiri. Disamping memiliki keunggulan-keunggulan, juga keterbatasan-keterbatasan. Karena itu tidak ada media yang dapat mencapai semua tujuan, sesuai untuk semua materi dan cocok bagi semua siswa. Juga tidak ada media yang tepat bagi semua kegiatan belajar. Media tertentu cenderung untuk lebih tepat dipakai dalam menyajikan suatu unit pelajaran tertentu daripada media yang lain.
Atas dasar itu maka pemilihan media harus dilakukan dengan hati-hati agar benar-benar diperoleh media yang tepat. Sebelum mengetahui bagaimana kriteria memilih media  pembelajaran ada syarat-syarat, prinsip-prinsip dan beberapa faktor yang perlu  diperhatikan sebelumnya didalam memilih media pembelajaran. Syarat-syarat memilih media antara lain :
a.       Syarat-syarat media antara lain sebagai berikut : Rasional, artinya sesuai dengan akal dan mampu dipikirkan oleh siswa, Ilmiah, artinya sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan, Ekonomis, artinya sesuai dengan kemampuan pembayaran yang ada atau hemat, Praktis, artinya dapat digunakan dalam kondisi praktek disekolah dan bersifat sederhana dan Fungsional, artinya berguna dalam pengajaran, dapat digunakan oleh guru dan siswa.
b.      Faktor yang diperhatikan didalam memilih pengajaran tersebut ada 9, yaitu :
1)      Obyektifitas
Perlu dihindarkan sikap subyektif didalam memilih media pendidikan. Memilih media pendidikan tertentu tidak dapat dibenarkan jika didasarkan atas alasan kesenangan pribadi terhadap media tersebut kalau secara obyektif suatu jenis media sangat efektif untuk mencapai suatu tujuan instruksional tertentu, maka media tersebut harus dipilih.
2)      Materi program
Materi atau isi program media yang akan digunakan harus sesuai dengan kurikulum yang berbalik. Meskipun secara teori suatu program sangat baik dan menarik, tetapi jika tidak sesuai dengan kurikulum, maka tidak akan banyak memberikan manfaat. Isi program media pendidikan juga harus sesuai dengan keadaan yang sebenarnya  seperti yang hendak disampaikan.
3)      Tujuan
Tiap program media pendidikan mempunyai tujuan tertentu dan perlu dipelajari apakah tujuan tersebut sesuai dengan tujuan pengajaran yang akan dicapai. Perlu juga dikaji apakah program media yang akan digunakan tidak mengandung terlalu banyak masalah sehingga intinya menjadi kabur dan tujuannya tidak tercapai.
4)      Sasaran Program
Didalam memilih media pendidikan perlu diperhatikan apakah programnya sesuai dengan usia dan tingkat pengetahuan sasaran yang akan dituju. Misalnya, jika yang akan diajar adalah anak-anak kelas satu SMP, perlu dicari program media yang sesuai untuk anak kelas satu SMP.
5)      Efektivfitas dan efisiensi penggunaan
Media adalah alat untuk mengkomunikasikan pesan. Maka perlu dikaji apakah program media yang hendak dipilih atau digunakan itu tepat untuk menyampaikan  pesan yang akan dikomunikasikan tersebut.
Misalnya, pesan yang mengandung unsur gerak yang perlu dilihat, kurang sesuai bila disampaikan lewat radio. Hubungan efektivitas jenis media pendidikan dengan besar sasaran dan tujuan belajar yang bersifat kognitif, afektif dan psikomotorik.
6)      Situasi dan Kondisi
Perlu dipertimbangkan apakah program media itu sesuai dengan situasi sekolah yang akan menggunakannya. Misalnya program yang baik untuk anak di kota belum tentu cocok untuk anak didesa. Perlu juga diperhatikan apakah program media yang akan digunakan direncanakan untuk belajar secara klasikal atau perseorangan.
7)      Kualitas Tehnik
Dalam pemilihan media pendidikan perlu diperhatikan apakah program tersebut secara tehnik sudah memenuhi syarat. Rekaman audio yang kurang jelas atau gambar yang kabur bukan hanya tidak menarik, tetapi juga dapat megganggu jalannya pelajaran.
8)      Validitas
Secara ideal media pendidikan yang hendak disebar luaskan perlu melalui uji coba dan revisi secara sistematis dan terus menerus. Dari uji coba tersebut dapat diketahui seberapa jauh media pendidikan tersebut dapat membantu anak dalam proses belajar serta seberapa jauh tujuan  instruksional. Data-data mengenai validitas ini perlu diperhatikan dalam memilih media pendidikan.
9)      Pembiayaan
Perlu dipertimbangkan apakah biaya yag dikeluarkan seimbang dengan manfaat yang dapat diperoleh dari penggunaan media tersebut. Apakah tidak ada media lain yang lebih mudah tetapi efektif ?. Jika dengan slide telah cukup efektif, mengapa harus film?.
c.       Prinsip-prinsip yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut :
1)      Harus ada kejelasan tentang maksud dan tujuan pemilihan media tersebut. Tujuan ini sendiri beraneka ragam, apakah untuk keperluan rekreasi/hiburan, informasi umum, instruksional dan sebagainya. Atau bahkan yang lebih spesifik, misalnya belajar kelompok, belajar individu untuk mencapai sasaran tertentu seperti anak balita, orang dewasa, masyarakat desa, tuna netra dan sebagainya. Dapat pula tujuan tersebut akan menyangkut pembedaan warna, suara atau anak seperti misalnya proses kimia (farmasi), pelajaran pembedahan (kedokteran), Aspek tujuan media yang telah diuraikan sebelumnya.
2)      Adanya familiaritas dari media itu sendiri. Dalam hal ini kita harus mengenal sifat dan ciri-ciri media yang akan kita pilih nanti. Karena itulah seorang guru hendaknya dapat mengetahui semua jenis media, sehingga guru dapat memilih media mana yang tepat kiranya untuk menyajikan materi kepada siswa. Belum tentu tepat media yang mahal harganya cocok untuk menyajikan salah satu materi kepada siswa, bahkan mungkin bisa terjadi media yang murah harganya dapat lebih cocok untuk menyajikan materi yang bersangkutan.
3)      Adanya sejumlah media yang dapat diperbandingkan. Dalam hal ini dapatlah dikatakan bahwa dalam pemilihan media pada dasarnya proses pengambilan keputusan dari adanya alternatif-alternatif pemecahan yang dituntut oleh tujuan. Prinsip ini perlu ditopang dengan pengertian akan berbagai jenis media berikut karakteristiknya.
d.      Kriteria Memilih Media Pengajaran
1)      Ketepatan dengan tujuan pengajaran, artinya media pengajaran dipilih atas dasar tujuan-tujuan Instruksional yang telah ditetapkan. Tujuan-tujuan instruksional yang berisikan unsur pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis lebih memungkinkan digunakan media pengajaran.
2)      Dukungan terhadap isi bahan pelajaran artinya bahan pelajaran yang sifatnya fakta, prinsip, konsep dan geeralisasi sangat memerlukan bantuan media agar lebih mudah dipahami siswa.
3)      Kemudahan memperoleh media, artinya media yang diperlukan udah diperoleh, setidak-tidaknya  mudah dibuat oleh guru pada waktu mengajar. Media grafis umumnya dapat dibuat guru tanpa biaya yang  mahal, disamping sederhana dan praktis penggunaannya.
4)      Ketrampilan guru dalam menggunakannya, apapun jenis media yang diperlukan syarat utama adalah guru dapat menggunakannya dalam proses pengajaran. Nilai dan manfaat yang diharapkan bukan medianya, tetapi dampak dari penggunaan oleh guru pada saat terjadinya interaksi belajar siswa dengan lingkungannya. Adanya OHP, proyektor film , komputer dan alat-alat canggih lainnya, tidak mempunyai arti apa-apa, bila guru tidak dapat menggunakannya dalam pengajaran untuk mempertinggi kualitas pengajaran.
5)      Tersedia waktu untuk menggunakannya, sehingga media tersbut dapat bermanfaat bagi siswa selama pengajaran berlangsung.
6)      Sesuai dengan taraf berpikir siswa, memilih media untuk pendidikan dan pengajaran harus sesuai dengan taraf berpikir siswa, sehingga makna yang terkandung didalamnya dapat dipahami oleh siswa..
6.       Prinsip Penggunaan Media Pembelajaran
Ada beberapa prinsip yang pelru dipertimbangkan oleh pengajar dalam memilih dan menggunakan media pembelajaran, yaitu :
a.       Tidak ada satu media yang paling unggul untuk semua tujuan. Suatu media hanya cocok untuk tujuan pembelajaran tertentu, tetapi mungkin tidak cocok untuk yang lain.
b.      Media bukan hanya sekedar alat bantu mengajar pengajar saja, tetapi merupakan bagian yang tak dapat dipisahkan dari proses belajar-mengajar, penetapan suatu media haruslah sesuai dengan komponen yang lain dalam perancangan suatu media haruslah sesuai dengan komponen yang lain dalam perancangan instruksional tanpa alat bantu mengajar mungkin pembelajaran tetap dapat berlangsung, tetapi tanpa media pembelajaran itu tidak akan terjadi.
c.       Media apapun yang hendak digunakan, sasaran akhirnya adalah untuk memudahkan belajar siswa. Kemudahan belajar siswa haruslah dijadikan acuan utama pemilihan dan penggunaan suatu media.
d.      Penggunaan berbagai media dalam satu kegiatan pembelajaran bukan hanya sekedar selingan/pengisi waktu atau hiburan, melainkan mempunyai tujuan yang menyatu dengan pembelajaran yang sedang berlangsung.
e.       Pemilihan media hendaknya objektif (didasarkan pada tujuan pembelajaran), tidak didasarkan pada kesenangan pribadi.
f.       Penggunaan beberapa media sekaligus akan dapat membingungkan siswa. Penggunaan multimedia tidak berarti menggunakan media yang banyak sekaligus, tetapi media tertentu dipilih untuk tujuan tertentu dan media yang lain digunakan untuk tujuan yang lain pula.

g.      Kebaikan dan keburukan media tidak terganggu pada kekonkritan dan keabstrakannya. Media yang kongkrit wujudnya, mungkin sukar untuk dipahami karena rumitnya, tetapi media yang abstrak dapat pula memberikan pengertian yang tepat. 

Pengertian AMDAL ( Analisis Mengenai Dampak Lingkungan )

Pengertian AMDAL ( Analisis Mengenai Dampak Lingkungan ) adalah keseluruhan proses yang meliputi penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan bagi berbagai usaha atau kegiatan terpadu/multisektor. Dengan perkataan lain, AMDAL adalah hasil studi mengenai dampak penting usaha atau kegiatan yang terpadu yang direncanakan terhadap lingkungan hidup dalam satu kesatuan hamparan ekosistem dan melibatkan kewenangan lebih dari satu instansi yang bertanggug jawab.
Terlaksanya pembangunan yang berwawasan lingkungan  dan terkendalinya pemanfaatan sumber daya alam secara bijaksana merupakan tujuan AMDAL (Analisis Dampak Lingkungan ). Dampak penting menurut penjelasnan pasal 16 ditentukan anatara lain oleh :
  1. Jumlah manusia yang akan terkena dampak;
  2. Luas wilayah persebaran damapak;
  3. Lamanya dampak berlangsung;
  4. Intensitas dampak;
  5. Banyak komponen lingkungan lainnya yang akan terkena dampak;
  6. Sifat kumulatif dampak tersebut;
  7. Berbalik (reversible) atau tidak berbalik (irrenversible);
Menurut keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup/Kepala Badann Pengendalian Dampak Lingkungan Nomor : KEP. 11/MELH 3/94, tanggal 19 MAret 1994 bahwa bidang usaha yang harus memperhatikan AMDAL, diantaranya :
  1. Bidang Pertambagan dan Energi;
  2. Bidang Kesehatan;Bidang Pekerjaan Umum;
  3. Bidang Pertanian;
  4. Bidang Parpostel;
  5. Bidang Transmigrasi dan Permukiman;
  6. Bidang Perindustrian;
  7. Bidang Perhubungan;
  8. Biang Perdagangan;
  9. Bidang Pertahanan dan keamanan;
  10. Bidang Pengemabangan tenaga Nuklir;
  11. Bidang Kehutanan;
  12. Bidang Pengendalian Bahan Berbahaya dan Beracun;
  13. Bidang kegiatan Terpadu/Multisektor;


Kajian tentang Perhatian Siswa

1.     Pengertian
Perhatian adalah bagian dari segala psikis yang sangat penting dalam mencapai suatu tujuan yang diharapkan. Oleh karena itu untuk mencapai suatu tujuan perlu adanya rangsangan yang dapat menarik perhatian seseorang. Sardjoe menjelaskan di dalam bukunya Psikologi Umum sebagai berikut :
Perhatian itu merupakan reaksi umum dari organisme dan kesadaran, yang menyebabkan bertambahnya aktifitas dalam konsentrasi dan pembatasan kesadaran terhadap suatu obyek (Kartono, 1984 : 154)
Seorang guru mempunyai tugas yang berat yaitu mendidik, membimbing, menasehati, mengarahkan, memberi dan menjadi tauladan bagi siswanya selain itu juga memberi motivasi agar siswanya selalu memiliki perhatian terhadap pendidikan terutama Pendidikan Agama Islam. Dengan perhatian siswa yang sungguh-sungguh terhadap Pendidikan Agama Islam maka pendidikan tersebut akan berhasil dengan baik sesuai dengan tujuan pendidikan yang diharapkan.
2.     Macam-macam Perhatian
Ada beberapa macam perhatian yaitu :
1.      Perhatian spontan yang disengaja
·         Perhatian spontan, spontan atau perhatian asli yang disebut juga perhatian langsung adalah perhatian yang timbul dengan sendirinya karena tertarik pada sesuatu, bukan karena dorongan kemauan.
·         Perhatian disengaja adalah perhatian yang timbul karena dorongan kemauan atau karena adanya tujuan tertentu. Misalnya seorang anak mendapat dorongan dari orang tuanya supaya rajin mengaji di Masjid dan oleh keinginannya sendiri, maka setiap saat perhatiannya terhadap pendidikan mengaji selalu kuat, karena besar atau kuat perhatiannya itu akan mengaji dengan tekun, rajin dan penuh tanggung jawab, karena ia telah menyadari bahwa mengaji itu merupakan kebutuhan hidupnya.
2.      Perhatian statis dan dinamis
·         Perhatian statis adalah perhatian yang tetap terhadap sesuatu. Dengan perhatian yang tetap itu, maka dalam waktu yang agak lama, perhatian akan menjadi kuat, misalnya : seorang siswa selalu memperhatikan pelajaran dan pendidikan agama Islam karena tertarik pada pendidikan Agama Islam makin lama perhatian siswa tersebut bertambah kuat, tidak mudah pindah ke obyek lain karena pendidikan tersebut cocok untuknya.
·         Perhatian dinamis ialah perhatian yang mudah berubah-ubah, bergerak atau pindah dari obyek yang satu ke obyek yang lain, agar perhatian kita terhadap sesuatu tetap kuat, maka perlu sering diberi perangsang baru.
3.      Perhatian konsentratif dan distributif
·         Perhatian konsentratif atau perhatian memusat yakni : perhatian yang hanya ditujuakan pada satu obyek atau satu masalah tertentu, misalnya: seseorang sedang berdo’a, saat itu jiwanya dipusatkan hanya untuk berdo’a kepada Allah saja perhatiannya tidak bercabang umumnya agak tetap, kukuh, kuat dan perhatiannya tidak mudah pindah ke obyek yang lain.
·         Perhatian distributif atau perhatian yang terbagi-bagi dengan perhatian ini orang dapat membagi-bagikan perhatiannya kepada beberapa arah dengan sekali jalan dan dalam waktu yang bersamaan, misalnya : guru sedang mengajar perhatiannya terbagi kepada materi pelajaran, sikap siswa, kondisi siswa dan lain-lainnya.
4.      Perhatian sempit dan perhatian luas
·         Perhatian sempit adalah perhatian yang mudah dipusatkan kepada suatu obyek yang terbatas, sekalipun berada pada tempat yang ramai, jiwanya tidak mudah digoda keadaan sekitarnya, tidak mudah mengalihkan perhatiannya ke obyek lainnya.
·         Perhatian luas adalah perhatian yang mudah tertarik oleh kejadian-kejadian di sekelilingnya, mudah dipengaruhi, mudah terangsang dan mudah mencurahkan jiwanya kepada hal-hal yang lain (Ahmadi, 1983: 99 – 100)
3.     Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perhatian Siswa
Yang dapat mempengaruhi perhatian siswa ada dua faktor, yaitu :
1.      Faktor intern atau faktor pembawaan juga disebut faktor heriditas. Faktor ini timbul dari diri siswa itu sendiri karena tertarik pada sesuatu yang tidak didorong oleh kemauan.

2.      Faktor ekstern yang disebut faktor milieu atau faktor lingkungan. Faktor ini ada beberapa macam, misalnya faktor pendidikan. Jika di sekolah, yang mempengaruhi adalah guru yang memberikan pendidikan, bimbingan, nasehat, arahan, teladan dan motivasi, maka akan tumbuh perhatian siswa terhadap pendidikan agama Islam. Juga perhatian siswa bisa dipengaruhi dari teman-temannya dengan cara sering diajak belajar bersama, diajak mengaji, diajak bermain bersama. Kegiatan yang seperti ini akan mempengaruhi perhatian siswa, oleh karen itu siswa hendaknya dapat memilih teman yang dapat memberi pengaruh yang positif, agar dapat menumbuhkan perhatian siswa terhadap pendidikan khususnya pendidikan agama Islam. Jika siswa sedang berada di rumah, yang dapat mempengaruhi perhatiannya adalah keluarga terutama orang tua, oleh karena itu orang tua harus mendidik atau mendidik atau membimbing, menasehati, memberi atau menjadi teladan yang baik agar dapat menumbuhkan perhatian siswa terhadap pendidikan khususnya pendidikan Agama Islam.